BAN-PT Akan Manfaatkan Teknologi Artificial Intelligent untuk Nilai Kondisi Prodi dan Perguruan Tinggi

JAKARTA – Internal Quality Assurance (IQA) menggelar konferensi internasional ke-4 tentang Jaminan Mutu Pendidikan Tinggi, kali ini dengan tema “Jaminan Mutu untuk Pendidikan Tinggi di era 4.0 di Dunia Islam: Belajar dari Masa Lalu dan Memenuhi Tantangan Masa Depan” (28/10).

Konferensi yang diselenggarakan di Hotel Sultan Jakarta dari tanggal 27 hingga 30 Oktober 2019 ini disambut baik oleh Patdono Suwignjo selaku Plt. Dirjen Kelembagaan Iptek dan Dikti Kemenristekdikti, mengingat revolusi industri kini sudah melanda di semua negara.

“Di revolusi industri 4.0, banyak pekerjaan yang sekarang hilang. Untuk itu maka ada 3 literasi baru yang dibutuhkan. Pertama adalah literasi mengenai big data analysis, kedua literasi digital technology, dan ketiga adalah human literation,” ungkap Patdono saat membuka konferensi tersebut.

Dengan ketiga literasi tersebut, seluruh perguruan tinggi termasuk perguruan tinggi keagamaan harus merespon fenomena revolusi industri 4.0 ini dengan memberikan tiga literasi baru melalui teknologi-teknologi dan inovasi yang digunakan pada saat ini.

“Langkah konkrit yang harus dilakukan yang pertama mengubah kurikulum mengenai big data analysisdigital technology dan human literation. Tidak hanya pada perguruan tinggi umum tapi juga pada perguruan tinggi keagamaan, ” tegas Patdono.

Senada dengan Patdono, Direktur Eksekutif BAN-PT Basaruddin juga mengatakan harus menyiapkan kurikulum yang dapat mengembangkan kemampuan baru yang memang dibutuhkan di industri pada era 4.0. “Agar lulusan kita bisa bersaing di masa depan bahkan dengan robot, maka kita harus punya human literation, karena robot tidak mungkin punya itu.”

Basaruddin mengatakan, BAN-PT secara bertahap akan melakukan perubahan-perubahan untuk mengantisipasi industri 4.0 ini. “Kita sudah membuat instrumen baru yang lebih menitikberatkan bukan hanya di input, tapi bagaimana outcome dan output yang lebih baik. Ke depan, kita akan memanfaatkan teknologi artificial intelligent untuk menakar dan menilai kondisi prodi dan perguruan tinggi dengan big data,” ungkap Basaruddin.

Diharapkan juga data yang ada di Pangkalan Data Pendidikan Tinggi (PDDIKTI) lebih kuat serta akurat sehingga instrumen dan proses assesmen oleh BAN-PT ada proporsi yang dihubungkan dengan SAPTO.

Untuk program studi, sistem penjaminan mutu baik pada perguruan tinggi di bawah Kementerian Agama dan Kemendikbud (dulu Kemenristekdikti), bisa dibedakan untuk yang sifatnya spesifik keagamaan, karena memiliki instrumen yang berbeda. Sementara untuk perguruan tinggi, tidak sistem penjaminan mutunya tidak dibedakan.

“Dengan adanya IQA untuk islamic world ini saya berharap perguruan tinggi Islam di Indonesia  mempelajari strategi perguruan tinggi Islam ternama di luar negeri. Mulai dari manajemen, pengelolaan akademik, research, dan lain-lain”, pungkas Basaruddin.

Internal Quality Assurance (IQA) 

IQA sebagai organisasi Islam internasional menyelenggarakan konferensi internasional setiap tahun dengan konferensi terakhir diadakan di Bali, pada tahun 2018 lalu.

Tujuan utama konferensi ini adalah 1) untuk berkontribusi pada pembentukan keselarasan nasional, regional, dan internasional dalam penjaminan mutu pendidikan tinggi untuk menembus batas-batas dalam meraih mutu Pendidikan tinggi Islam baik secara regional dan internasional; 2) untuk memfasilitasi peningkatan mutu, mobilitas dan pertukaran mahasiswa, baik pada level nasional, regional dan internasional.

Selanjutnya,  3) untuk memperkuat pembangunan kapasitas mutu sumber daya informasi global sebagai antisipasi pembentukan generasi mendatang di era teknologi, dan untuk mempromosikan budaya mutu; 4) terakhir adalah untuk berusaha keras dalam menumbuhkan rasa saling percaya, dan pemahaman sistem pendidikan tinggi di seluruh dunia, terutama di negara-negara muslim.

Bekerjasama dengan  BAN-PT, Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta, Universitas Islam Negeri (UIN) Maulana Malik Ibrahim Mlang dan Universitas Islam Indonesia (UII) Yogyakarta, seminar ini bertujuan untuk meningkatkan kualitas dan mutu pendidikan tinggi di Indonesia agar dapat  beradaptasi dengan tren-tren masa kini khususnya menyikapi berlangsungnya era otomatisasi dan big data.

Hadir juga sebagai keynote spekers di antaranya Dr. Jawaher Shaheen Al-Mudhahki, yang berbicaa soal “quality assurance of higher education in the industrial revolution 4.0”. Di samping itu, ada juga Dr. Susanna Karakhanyan yang menyampaikan materi “enhancing quality of islamic higher education institutions for global recognition.”

Liputan/foto Kahfi, Editor Sakasuti

0

Tinggalkan Balasan